
Rabu, 07 September 2011
Buaya Terbesar Dunia Tertangkap di Filipina

Senin, 29 Agustus 2011
Fosil Mirip Tikus Bisa Ungkap Evolusi Manusia
Fosil dari makhluk yang dinamakan Juramaia sinensis ini merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan dari kelompok hewan yang disebuteutheria, atau mamalia plasental. Kelompok hewan mamalia plasental ini memiliki ciri melahirkan, di antaranya seperti sapi, tikus, singa, macan, anjing, paus, dan primata.
Mamalia berbulu yang fosilnya ditemukan di provinsi Liaoning ini diperkirakan tinggal di timur laut Cina selama era Jurasik. Ini merupakan era ketika dinosaurus masih menguasai Bumi.
Dr. Zhe-Xi Luo, paleontologis dari Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh, Amerika Serikat, mengatakan: "Juramaia, dari 160 juta tahun lalu merupakan nenek-moyang atau 'bibi-moyang' semua mamalia plasenta yang berkembang hari ini,” ujarnya.
Gambaran fosil tersebut, menurut para peneliti merupakan tonggak sejarah baru dalam evolusi mamalia yang mencapai 35 juta tahun.
Nama Juramaia sinensis memiliki arti 'Induk Jurasik dari Cina'. Fosil ini sendiri memiliki tengkorak yang tidak lengkap, sebagian kerangka, dan jaringan lunak sisa, seperti rambut. Juramaia juga memiliki gigi yang lengkap. Para ahli paleonantropologi memperkirakan fosil ini lebih dekat dengan makhluk marsupial berkantung, seperti kanguru.
"Memahami titik awal placentals merupakan isu penting dalam studi semua evolusi mamalia," kata Zhe-Xi Luo.
Waktu perubahan evolusi--saat spesies leluhur terbagi menjadi dua garis keturunan keturunan--merupakan salah satu informasi terpenting yang bisa dimiliki seorang peneliti evolusi.
Sebelum penemuan Juramaia, titik perbedaan makhluk jenis eutheria dari metatherians menimbulkan kesulitan bagi para sejarawan evolusi. Bukti dari eutheria DNA menyarankan, seharusnya muncul lebih awal dalam catatan fosil--sekitar 160 juta tahun lalu. Namun, eutheria tertua adalah Eomaia, yang hidup 125 juta tahun lalu.
Juramaia juga mengungkapkan fitur adaptif yang mungkin telah membantu para pendatang baru eutheria untuk bertahan hidup di lingkungan Jurasik. Juramaia menggunakan tungkai depan untuk memanjat dan mampu menyesuaikan dengan cara hidup Jurasik.
"Perbedaan mamalia eutheria dari marsupial akhirnya menyebabkan kelahiran plasenta dan reproduksi yang sangat penting bagi keberhasilan evolusi placentals.” ungkap Dr. Luo. "Tapi itu adalah adaptasi awal mereka untuk mengeksploitasi tempat pada pohon yang membuka jalan mereka menuju kesuksesan evolusi ini."
Kamis, 18 Agustus 2011
Ilmuwan Temukan 'Fosil Hidup' Belut Era Dinosaurus

Sabtu, 13 Agustus 2011
Fosil Burung Purba Raksasa Ditemukan di Kazakhstan

Senin, 08 Agustus 2011
Ahli Temukan Terowongan Zaman Batu ke Neraka

bacaan-menarik.blogspot.com** Sebuah buku mengklaim, manusia zaman batu membuat jaringan masif terowongan bawah tanah Skotlandia-Turki. Bahkan, kabarnya, terowongan berujung di neraka.
Arkeolog Jerman Dr Heinrich Kusch mengatakan, bukti terowongan ini ditemukan di bawah ratusan pemukiman Neolothic di seluruh Eropa. Dalam buku Secrets Of The Underground Door To An Ancient World, ia mengklaim jaringan terowongan asli pasti sangat besar.
“Di Bavaria, Jerman, saja ada 700 meter jaringan terowongan bawah tanah. Di Styria, Austria, terdapat 350 meter terowongan ini,” ungkapnya.
Di seluruh Eropa, ditemukan ribuan meter terowongan dari utara Skotlandia hingga Mediterania.
“Kebanyakan terowongan ini tak lebih besar dari lubang cacing dengan lebar 70 cm yang cukup untuk satu orang,” katanya.
Beberapa ahli yakin seperti dilaporkan Dailymail, jaringan ini menjadi cara berlindung orang zaman batu dari predator.
Sementara lainnya, yakin terowongan ini digunakan sebagai jalan untuk bepergian dengan aman meski sedang terjadi perang atau kekerasan bahkan cuaca. Selain itu, buku tersebut mencatat, dalam beberapa kitab, terowongan ini dikabarkan menghubungkan ke gerbang neraka.
Ilmuwan Temukan Primata Kuno di Uganda

bacaan-menarik.blogspot.com-Peneliti Prancis mengaku berhasil menemukan fosil tengkorak yang berada dalam kondisi baik di Uganda. Fosil ini diperkirakan berusia 20 juta tahun.
Fosil ini ditemukan di situs gunung api punah di negara terpencil di timur laut wilayah Karamoja, salah satu area berkembang di Uganda. Menurut laporan BBC, peneliti mengatakan, tengkorak herbivora pemanjat pohon ini seukuran simpanse.
Bedanya, primata ini memiliki ukuran otak yang lebih kecil. Palaentolog Martin PickFord dari College de France di Paris bersama Brigitte Senut dari French National Museum of Natural History mengatakan, tengkorak ini berasal dari makhluk yang dijuluki Ugandapithecus.
“Fosil ini sangat penting dan menempatkan Uganda dalam peta dunia sains,” ujarnya.
Senut mengatakan, sisa-sisa yang ada akan dibawa ke Paris untuk diberi sinar-x dan didokumentasikan kemudian dibawa kembali ke Uganda.
“Fosil ini akan dibersihkan di Prancis dan kemudian setelah setahun, fosil ini akan dikembalikan,” ujarnya seperti ditulis BBC.
Jumat, 22 April 2011
Ditemukan, Dinosaurus Tertua yang Sakit Gigi
“Temuan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan kita seputar penyakit gigi, tetapi juga mengungkapkan kelebihan dan kekurangan yang dihadapi makhluk tertentu saat gigi mereka berkembang untuk memakan baik daging ataupun tanaman,” kata Robert Reisz, peneliti dari University of Toronto Mississauga, Kanada, seperti dikutip dari LiveScience, 21 April 2011.
Sama seperti manusia, kata Reisz, temuan ini meningkatkan peluang terjadinya infeksi mulut pada dinosaurus. Selain itu, ada juga potensi untuk mengetahui penyebab kematian hewan tersebut.
“Muncul pertanyaan, apakah dinosaurus ini mati karena infeksi?,” kata Reisz. “Saat ini kita belum bisa memastikan. Akan tetapi, kemungkinan infeksi merupakan salah satu faktor yang berkontribusi,” ucapnya.
Sebagai contoh, kata Reisz, sakit gigi seperti itu bisa mempersulit hewan untuk makan. “Dan jika Anda adalah seorang yang sangat tua seperti reptil ini, Anda sangat berpotensi untuk menjadi lemah dan kemudian disantap oleh predator lain,” ucapnya.
Adapun reptil yang dimaksud adalah Labidosaurus hamatus, dinosaurus yang hidup di kawasan Amerika Utara. Saat ditemukan, reisz dan rekan-rekannya mendapati bahwa ada gigi yang hilang serta terjadi kerusakan di tulang rahang hewan itu.
Dari ukurannya, diperkirakan hewan ini merupakan hewan yang sudah cukup tua untuk ukuran spesiesnya.
Setelah mengamati tulang tersebut dengan CT scan, tim peneliti menemukan bukti adanya infeksi parah yang menyebabkan hilangnya gigi, menyebabkan abses, dan kehilangan jaringan di tulang rahang.
“Tampaknya gigi hewan ini patah dan berhubung tidak tumbuh gigi pengganti, maka terjadi lubang,” kata Reisz. “Lewat lubang ini, bakteri mulut kemungkinan memasuki rahang dan kemudian merusaknya,” ucapnya

__THISRES__224092.jpg)











