Tampilkan postingan dengan label militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label militer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 September 2010

PT Pindad dalam waktu dekat akan memproduksi sekitar 3.000 senapan serbu jenis SS-2

0 komentar

PT Pindad dalam waktu dekat akan memproduksi sekitar 3.000 senapan serbu jenis SS-2 untuk memenuhi kebutuhan senjata prajurit TNI. Senapan SS-2 merupakan senapan generasi kedua dari SS-1 yang didesain lebih ergonomis, tahan terhadap kelembaban tinggi, lebih ringan, memiliki akurasi tinggi dan bentuk yang sederhana.

Senjata SS-2 Pindad tak kalah dengan buatan luar negeri.Senjata serbu ini berkaliber 5,56x45 mm dengan panjang laras 460 mm dan berat 3,2 kg. Senapan ini andal untuk digunakan dengan popor lipat yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan di segala medan.
SS-2 bisa dilengkapi berbagai aksesories seperti teleskop, silencer, berbagai tipe pelontar granat hingga sangkur. Jenis senjata ini dikembangkan dalam bentuk tiga tipe, yakni tipe medan standar, medan maritim dan medan tempur khusus (raider).

Kepala Departemen Humas PT Pindad, Timbul Sitompul mengungkapkan, selain untuk kebutuhan dalam negeri, senjata produksi Pindad diekspor ke beberapa negara sahabat di Asean dan Afrika dalam skema perdagangan pemerintah ke pemerintah (G to G).

Kepercayaan berbagai pihak untuk menggunakan senapan produksi terbaru Pindad terus tumbuh. Terutama setelah Presiden SBY memberikan penghargaan Satya Lencana Pembangunan kepada Dirut PT Pindad, Budi Santoso pada 11 Desember 2006. Penghargaan itu diberikan karena senapan SS-2 produk Pindad memiliki kualitas yang sama baiknya dengan produk luar.

Terbukti dengan memakai senjata ini tim Indonesia berhasil keluar sebagai juara umum dalam kejuaraan menembak antartentara se Asean (Asean Army Rifle Meeting XVI) di Hanoi Vietnam, 29 November รข€“ 9 Desember 2006. Dalam kejuaraan yang diikuti 10 negara Asean itu, Indonesia keluar sebagai juara umum dengan meraih 24 medali emas seperti diberitakan Bisnis Indonesia (7/2). SP (Berita Indonesia 32)

Read More..

Rabu, 18 Agustus 2010

kekuatan TNI tahun 60an adalah salah satu terkuat dunia!!

0 komentar

kekuatan militer Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.

1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.

Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat "Trikora" di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.

Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
HNLMS Karel Doorman, Biak, Papua




Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.

Mikoyan-Gurevich MiG-21




Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.

Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.



Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.

Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Ini semua membuat Indonesia menjadi salah satu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.
Read More..

Minggu, 15 Agustus 2010

Militer Amerika Serikat melakukan serangan udara rahasia terhadap tersangka target Al Qaida di Yaman

0 komentar

INILAH.COM, Washington - Militer Amerika Serikat melakukan serangan udara rahasia terhadap tersangka target Al Qaida di Yaman dan menewaskan wakil gubernur provinsi.

Mengutip perwira AS yang tidak disebut namanya, surat kabar New York Times Sabtu itu mengatakan, serangan udara telah menghantam suatu kelompok yang diduga beroperasi untuk Al Qaida di provinsi gurun Marib yang terpencil, sebagaimana dikutip dari Antara, Minggu (15/8).

Namun operasi itu juga menewaskan wakil gubernur provinsi, pemimpin daerah yang dihormati, yang menurut para pejabat Yaman telah berusaha melakukan perundingan dengan para anggota Al Qaida, untuk meningkatkan perlawanan mereka, menurut laporan itu.

Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, menerima tanggungjawab atas kematian dia dan membayarkan uang darah kepada suku-suku yang diserang, menurut surat kabar tersebut.

Menurut The Times, serangan itu adalah misi rahasia militer AS, dan sedikitnya merupakan serangan semacam keempat terhadap Al Qaida di pegunungan-pegunungan dan gurun pasir Yaman sejak Desember.

Surat kabar itu mengatakan, AS kini meningkatkan operasi intelijen dan militernya di daerah-daerah sekitar padang pasir Afrika Utara, sampai pegunungan-pegunungan Pakistan, dan ke bekas republik Sovyet. AS membayar kontraktor untuk mata-mata dan pelatihan operasi lokal untuk mengejar teroris. Hampir tidak ada langkah-langkah baru agresif yang dilakukan oleh pemerintah Amerika telah diakui publik, kata surat kabar tersebut.
Read More..

Jumat, 13 Agustus 2010

indonessia akan membeli pesawat tempur brazil !!

0 komentar

CETAK

KIRIM

FACEBOOK

Buzz up!

TNI akan Beli Pesawat Tempur Buatan Brazil

Super Tucano/defense-update.com

JAKARTA--MI: Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan TNI AU berencana membeli satu squadron (16 unit) pesawat tempur Super Tucano buatan Brazil sebagai pengganti pesawat tempur OV-10 yang telah dikandangkan sejak tahun 2007.

Dikatakan Imam, pembelian pesawat Super Tucano ini membutuhkan anggaran US$250 juta. "Pada awalnya dianggarkan hanya US$200 juta, tapi karena informasi dari produsen harganya naik maka anggarannya tidak cukup US$13 juta per unit. Karena itu, TNI AU mengusulkan tambahan anggaran US$50 juta tahun 2010 sehingga total anggaran menjadi US$250 juta," kata Imam saat Rapat Kerja dengan Komisi I DPR bersama Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Agus Suhartono, Wakil Menhan, Jenderal TNI Sjafrie Sjamsuddin, dan Wakil Kasad Letjen TNI Yohanes Suryo Prabowo yang digelar di ruang Komisi I DPR Senayan Jakarta, Senin (22/2).

Kasau menjelaskan, rencana pembelian pesawat Super Tucano ini telah diprogram dalam dua tahun anggaran yaitu tahun 2009 dianggarkan US$148 juta dan tahun 2010 sebanyak US$52 juta.

Menurut Imam, keunggulan pesawat jenis super tucano ini tidak hanya lebih murah dibandingkan dengan pesawat tempur jenis F-16, akan tetapi paling murah biaya operasinya. Untuk satu jam operasi pesawat Super Tucano hanya membutuhkan US$70.

"Saya berharap Komisi I DPR, Menhan dan Panglima TNI bisa mendukung realisasi lebih cepat pembelian pesawat Super Tucano tahun 2010 ini," katanya.

Kasau juga menjelaskan, pesawat Super Tucano ini merupakan pesawat tempur taktis yang berfungsi sebagai counter insurgency, dan sebagai pesawat remote air control (pesawat kontrol udara). Artinya, apabila ada pesawat yang lebih kencang seperti F-16 bisa memberitahu sasarannya. Keunggulan lainnya, kata Kasau, pesawat Super Tucano mampu membawa amunisi minimal 1500 kilo gram. Selain itu, pesawat Super Tucano juga digunakan oleh banyak negara termasuk AS. Pesawat Super Tucano juga lebih unggul karena bisa beroperasi minimal tiga jam.

Di Brazil, menurut Kasau, pesawat Super Tucano ini berhasil mengurangi illegal logging, trafficking. "Spesifikasi pesawat tempur Super Tucano ini lebih baik dan lebih besar. Digunakan sebagai pesawat temput taktis dan counter insurgency serta remote air control, dan juga akan digunakan sebagai pesawat intai," katanya.

Kasau menambahkan, proses pembelian pesawat Super Tucano sudah berjalan sejak 2007, dan proses pengumuman juga sudah berjalan. TNI AU termasuk Komisi I DPR periode 2004-2009 sudah melakukan peninjauan di pabriknya pada Februari 2007.

Menurutnya, TNI AU sangat membutuhkan pembelian pesawat temput jenis Super Tucano untuk menggantikan pesawat temput jenis OV-10 yang dikandangkan setelah ada kecelakaan pada 4 Oktober 2007. (ST/OL-7)
Read More..

lapan sukses uji coba roket proyek antariksa !!

0 komentar
Tiga roket RX-200 berhasil diuji terbangkan oleh LAPAN, Minggu (20/06). Ketiga buah roket tersebut merupakan rangkaian uji coba muatan satelit LAPAN-ORARI.

Roket pertama diluncurkan pada pukul 06.00 WIB. Menurut Deputi Teknologi Dirgantara Dr. Ing. Soewarto Hardhienata mengatakan uji roket pertama adalah untuk menguji karakteristik roket.

“Sedang roket kedua dan ketiga menguji muatan Satelit LAPAN-ORARI”, terangnya.
Uji terbang yang berlangsung di Stasiun Peluncuran Roket LAPAN Pameungpeuk Garut ini, dihadiri oleh Ketua Umum ORARI Sutiyoso dan Kabalitbang Kementerian Pertahanan Pos Hutabarat dan Sekretaris Balitbang Kementerian Pertahanan Eddy Priyono. Dalam kesempatan tersebut, Bang Yos bersama dengan Pak Warto menekan tombol firing roket ketiga.

“Keberhasilan ini (uji terbang) sangat penting dalam usaha menjamin kelancaran komunikasi bencana”, tegas Bang Yos saat jumpa pers yang digelar seusai peluncuran roket kedua.
Read More..

Minggu, 01 Agustus 2010

Pesawat Tempur Tercanggih di Dunia, Laporan DERA Studies ??

0 komentar


F-22 Raptor, pesawat tempur tercanggih
dan paling mematikan di dunia


Tidak ada satupun pesawat di Bumi yang bisa mengalahkannya.

Inilah F-22 Raptor, pesawat tempur futuristik dari generasi ke 5.
Apa keunggulan definitif pesawat tempur generasi ke-5 ini dibanding generasi ke-4 (F-14 s/d F-18)?

Inilah keunggulan utamanya :

1. Stealth

Pesawat tempur tercanggih ini tidak akan terlihat radar musuh. Kalau pesawat anda tidak bisa dilihat, maka anda akan nyaris mustahil ditembak, dijatuhkan, dan dikalahkan. Teknologi masa depan ini terutama dihasilkan berdasarkan rekayasa struktur bentuk pesawat dan material yang menyerap gelombang radar, RAM, Radar Absorbent Material.

2. Mini AWACS, "First-look, first-shot, first-kill".

Pesawat F-22 mempunyai radar dengan jangkauan lebih jauh dari pesawat-pesawat lain, bahkan nyaris setara AWACS. Artinya F-22 dapat melihat anda jauh sebelum anda bisa melihat pesawat itu. F-22 juga memiliki sistem Radar LPI super canggih (Low Probability of Intercept Radar), artinya pesawat yang telah terdeteksi radar F-22 tidak akan bisa tahu kalau dia sudah terdeteksi dan radar warning-nya tidak akan menyala.

3. Manuverabilitas Super.

F-22 memiliki teknologi Thrust Vectoring di ekornya, artinya pengeluaran energi mesinnya dapat diarahkan secara mekanis dengan lebih fleksibel. Ini membuat kemampuan manuvernya lebih tinggi.

4. Persenjataan Internal.


Persenjataan F-22 tersembunyi di dalam pesawat, dan baru terbuka saat akan ditembakkan. Ini membuat tingkat Stealth-nya menjadi lebih tinggi, dan aerodinamikanya membuat pesawat ini bisa terbang lebih cepat dan lebih efisien.




Pesawat Tempur Tercanggih Versi DERA

Berdasarkan riset dari Defense Evaluation And Research Agency, F-22 adalah pesawat tercanggih dan paling mematikan di dunia, bahkan 10 kali lebih mematikan dari pesawat terbaik Rusia saat ini, SU-35 (SU-37 masih berupa eksperimental).

Dibandingkan pesawat tempur tercanggih Eropa Eurofighter Typhoon, F-22 dua kali lebih berbahaya. Artinya setiap satu pesawat F-22 bisa menembak jatuh 2 pesawat Typhoon. Sedangkan pesawat Amerika generasi sebelumnya, F-16, tidak akan mungkin mengalahkan F-22 dalam kondisi apapun.







Lihat disini, Gambar-gambar pesawat Tempur tercanggih duni

Read More..

kekuatan militer udara iran ??

0 komentar

Gara-gara ngotot ingin mempertahankan proyek pengayaan uranium, Iran kini jadi sorotan Barat. Berbagai upaya diplomasi dilakukan agar Teheran mau menghentikan proyek tersebut. Seperti halnya nasib Irak, kemungkinan opsi untuk menyerang Iran dengan kekuatan militer tetap ada. Mampukah kekuatan udara Iran mencegah atau paling tidak mengganjal serangan itu?

Barat dan AS tak pernah tahu seberapa besar kekuatan udara Iran. Itulah masalah pertama yang mesti dibedah bila opsi serangan militer dilakukan. Selama ini semua informasi tentang kekuatan AU Iran atau Islamic Republic of Iran Air Force (IRIAF) sepenuhnya datang dari jaringan intelijen Israel. Ironisnya, kebanyakan info yang disajikan Tel-Aviv meleset. Dalam laporan disebutkan kalau kekuatan IRIAF tak sehebat dulu. Beragam jet tempur asal AS yang pernah dibelinya sebagian besar teronggok di darat akibat kelangkaan suku cadang.

Lain laporan di atas kertas, lain pula kenyataan di lapangan. Kejadian pada November 2003 lalu bisa jadi buktinya. Saat AS dan sekutunya melancarkan serbuan ke Irak, mereka sempat mencium formasi jet tempur F-14A Tomcat IRIAF dalam jumlah besar. Dari pantauan radar AWACS E-3 Sentry AU AS selama 20 menit, dipergoki sedikitnya ada 16 unit Tomcat yang terbang pada ketinggian 30.000 kaki di dalam wilayah udara Iran, dekat kota Dezful. Temuan ini merupakan yang terbesar sejak tahun 1997, ketika pesawat-pesawat AL-AS tanpa sengaja bertemu dengan sembilan pesawat sejenis di Selatan Teluk Persia.

Untuk meredam masalah tersebut, Barat bersalin taktik. Mereka tak lagi mengandalkan tenaga manusia. Sebagai gantinya, pengumpulan data lebih bergantung pada berbagai jenis perangkat penyadap. Mulai dari radar pengintai, wahana penyadap elektronik, pesawat pengintai, lalu satelit. Tapi sekali lagi, umumnya para pengamat militer Barat tetap berpijak pada data kekuatan militer Iran yang telah berumur lebih dari 20 tahun!

Kombinasi unik

Hasil temuan di lapangan memang membuktikan, F-14A Tomcat masih jadi tulang punggung kekuatan IRIAF. Kabarnya, Teheran baru akan menurunkan jet tempur digdaya yang hanya dimiliki AS dan Iran ini bila situasi sudah benar-benar gawat. Begitu pun, diluar Tomcat, IRIAF masih mengoperasikan beberapa tipe pesawat tempur lain. Sebut saja diantaranya adalah F-4 Phantom II, MiG-29A Fulcrum, Chengdu F-7M Airguard, Sukhoi Su-24MK Fencer-D, dan Mirage F1EQ.

Jelas kemampuan semua tipe jet tadi sudah akrab di telinga pilot-pilot tempur Barat. Persoalan justru datang dari senjata yang dibawanya. Tanpa disangka Teheran memasangi senjata yang tak lazim dipakai. Selama musim panas 2005 misalnya, pilot-pilot Barat kerap memergoki armada Su-24 Fencer IRIAF dibekali rudal antikapal C-802K-2 buatan Cina.

Masih dari Cina, tercatat Iran pernah memborong sejumlah rudal PL-7 (jiplakan Matra Magic Mk.II). Arsenal udara-udara jarak pendek ini dipakai buat melengkapi jet-jet MiG-29, F-4 Phantom II, dan F-5E/F Tiger. Sayang proyek benilai jutaan dollar itu gagal. Teheran sempat memprotes Cina atas kegagalan ini dan selanjutnya mengambil alih proyek secara penuh. Akibatnya sampai saat ini PL-7 hanya menjadi senjata standar bagi armada MiG-29 dan F-4 saja.

Bicara tentang kombinasi senjata ajaib IRIAF, tak sepenuhnya hanya bergantung pada barang-barang impor. Mereka sanggup pula memasok sendiri beragam tipe rudal. Soal bentuk bisa dipastikan setali tiga uang dengan rudal-rudal pasokan AS zaman Syah Iran berkuasa. Tipe pertama yang dijadikan basis adalah AIM-9P2 Sidewinder. Mengusung nama baru yaitu Fatter, kecuali bodi dan motor penggerak, seluruh perangkat avionik memakai buatan lokal.

Masih tentang rudal udara-udara, lagi-lagi disini industri militer lokal Iran yang pegang peranan. Dengan kemampuannya mereka berhasil memelihara tingkat kesiapan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix. Dari total 284 unit AIM-54 (termasuk 10 varian latih ATM-54A) yang dibelinya semasa Shah, diperkirakan pada 1999 IRIAF masih punya 160 unit dalam kondisi siap tempur. Atau bila dihitung sekitar 40 persen dari kemampuan semula. Selain diotak-atik sendiri, sejumlah komponen vital rudal kabarnya bisa didapat Iran dari jalur tak resmi.

Program Sky Hawk

Bagi Iran keberadaan sisa Phoenix serta Fatter jelas dianggap belum bisa memenuhi kebutuhan IRIAF. Oleh karena itu industri senjata lokal Iran mencoba untuk menciptakan rudal jenis baru. Kali ini yang jadi sasaran adalah rudal antipesawat (SAM) MIM-23B I-HAWK. Mengusung nama AIM-23 Sedjil, rudal ini disulap menjadi arsenal udara-udara. Sedjil terhitung sebagai rudal jarak sedang. Tercatat Iran mulai mengembangkannya pada tahun 1986.

Pihak Barat pun mengaku sudah mengetahui kehadiran Sedjil sejak lama. Diberi nama kode Project Sky Hawk oleh AS, program ini merujuk pada upaya Israel buat menyulap rudal antiradar berkecepatan tinggi AGM-78 Standard untuk menguber MiG-25 Foxbat. Di mata AS proyek Sky Hawk dianggap gagal lantaran mengusung banyak kelemahan. Kendala paling utama datang dari soal keselarasan kinerja radar AWG-9 milik Tomcat dengan rudal. Sistem pemandu pada rudal kelewat lemah untuk membaca sinyal-sinyal yang dikirim radar. Toh kendala tadi sudah bisa diatasi oleh Iran. Terbukti saat beroperasi sejumlah Tomcat IRIAF memang dibekali sedikitnya dengan tiga rudal Sedjil.

Selain untuk keperluan pertempuran udara, Iran juga merekayasa rudal HAWK bagi kebutuhan serang darat. Arsenal udara-permukan ini diberi nama Yasser. Untuk menciptakannya Iran mengkombinasi rudal MIM-23 HAWK dengan hulu ledak bom M-117 yang berbobot 375 kilogram. Jujur saja, untuk Yasser AS dan sekutu-sekutunya masih kebingungan buat menganalisa sistem pemandu. Beberapa pengamat memperkirakan rudal melesat dengan bantuan laser (laser designator). Sementara sisanya masih percaya, pengoperasian rudal tetap berpandu pada radar AWG-9 milik Tomcat. Dalam operasi udara, IRIAF memasang rudal Yasser pada armada F-14A dan F-4E Phantom II.

Pesawat Iran Sedang Menembakkan Roketnya

Sekadar tambahan, disamping rekayasa berkategori berat, Iran juga melakukan modifikasi kecil. Trik macam ini diterapkan pada sistem rel-rel peluncur rudal pada armada jet tempur F-4 dan F-14. Alhasil kedua pesawat tadi kini mampu meluncurkan rudal antipesawat R-73 (kode NATO AA-11 Archer) buatan Rusia.

Jet lokal

Bila dibedah lebih jauh, sebenarnya kemampuan industri militer Iran tak hanya sebatas memodifikasi atau rekayasa arsenal udara saja. Urusan rekondisi bahkan menciptakan pesawat tempur turut diladeninya. Adalah Islamic Republic Iran Aviation Industry Organization (IRIAIO) atau kerap disebut HESA yang bertanggung jawab terhadap program pembangunan kembali kekuatan udara Iran.

Proyek pertama yang cukup berhasil adalah melakukan proses manufaktur semua komponen yang dibutuhkan mesin Tomcat, Pratt&Whitney TF-30-PW-414. Bahkan menurut sumber orang dalam HESA, Iran sudah punya kemampuan merakit penuh mesin TF-30 dengan komponen lokal. Pernyataan itu jelas tak bisa ditelan bulat-bulat oleh Barat. Mereka masih meragukan, terutama untuk komponen kompresor mesin.

Selanjutnya HESA juga dipercaya menggarap dua program pengembangan pesawat militer lokal. Program pertama adalah menciptakan jet latih berkemampuan tempur, Shafaq. Info yang berhasil dihimpun menunjukkan pesawat ini punya banyak kemiripan bentuk dengan Yakovlev Yak-130. Hanya saja bagian sirip mengadopsi model ganda seperti jet serang Skorpion asal Polandia. Kemampuan melesat hingga kecepatan mach 1 plus beragam perangkat avionik berteknologi digital dipastikan jadi standar Shafaq. Berbasis pesawat ini ada peluang IRIAF bakal mengembangkannya untuk keperluan serang darat.

Program kedua dikenal dengan nama M-ATF air superiority fighter. Jujur saja, untuk proyek yang satu ini masih diselimuti kabut misteri. Teheran tak mau begitu saja meloloskan info-info tentang proyek ini. Bahkan lebih jauh lagi mereka seperti sengaja melansir sejumlah proyek-proyek tandingan untuk mengaburkan kondisi yang sebenarnya. Proyek jet tempur Saeqe-80 (Halilintar-80) misalnya, sempat diisukan sudah rampung. Digambarkan Saeqe-80 tak lain merupakan pembesaran skalatis dari jet latih-tempur F-5F dengan bekal mesin-mesin dari Rusia.

Masih dalam rangka taktik pengelabuan, info paling akhir yang bisa didapat menyebutkan kalau Iran juga meluncurkan varian Saeqe-2. Basis yang dipakai untuk pengembangan adalah F-5E. Namun bagian sirip ekor pesawat ini dirombak menjadi model V. para pengamat barat lebih percaya kehadiran Saeqe-2 tak lain merupakan wahana uji coba struktur M-ATF.

Lepas dari segala program rahasia yang saat ini sedang dijalani, secara garis besar bisa dibilang industri kedirgantaraan Iran punya kapabilitas untuk memproduksi pesawat sendiri. Setidaknya ini dibuktikan oleh HESA yang secara resmi memegang lisensi resmi dari Antonov Rusia untuk membangun varian angkut An-140.

Tetap diperhitungkan

Memang banyak kejutan yang dilakukan Teheran agar kekuatan udara negeri ini yang seharusnya tetap diperhitungkan oleh pihak lawan. Bila dijabarkan di atas kertas, ada satu keunggulan teknis yang bisa didapat dari upaya mandiri dan rekayasa tadi. Lantaran sudah berubah dari spek aslinya, tentu lawan bakal dibuat pusing tujuh keliling untuk menebak kemampuan sesungguhnya dari senjata hasil rekayasa tadi.

Soal embargo senjata yang selama ini diterapkan, nyata-nyata tak berhasil membuat Iran benar-benar bertekuk lutut. Pasalnya tak semua negara mau patuh dengan aturan yang dicanangkan oleh AS itu. Perancis misalnya, pada tahun 2000 pernah memperbolehkan IRIAF untuk menguji kemampuan rudal udara-udara Matra Magic R550 Mk.II. dari jet Mirage F1EQ hasil hibah dari AU Irak. Tak hanya itu, rampung uji coba Paris serta merta menawari Iran dengan 62 unit Mirage F-1CT eks AU Perancis, 500 unit rudal Magic Mk.II plus dukungan suku cadang selama 10 tahun. Sayang, proyek senilai 1,8 miliar dolar ini gagal gara-gara Teheran kekurangan dana.

Diluar Perancis, masih ada Rusia yang terbilang punya nasib lebih beruntung. Walau kerap terganjal oleh jaringan intelijen AS, negeri ini sempat berhasil menjual sejumlah jet tempur MiG-29A Fulcrum ke Iran. Diluar MiG-29, pada tahun 2003 Rusia pernah pula menyodorkan 22 unit MiG-31 Foxhound lengkap dengan dukungan suku cadang. Proyek pengadaan MiG-31 ini tak kesampaian lantaran CIA turut campur tangan. (*)

Nyaris Punya F-16

Sudah bukan rahasia lagi kalau semasa Syah Iran berkuasa, Teheran adalah karib Washington. Bila situasi macam itu tetap berlaku hingga sekarang, bisa dipastikan posisinya bakal ada di atas Israel. Bayangkan saja, di era 70-an Iran dengan gampangnya kebagian jatah jet-jet tempur teranyar dari Negeri Paman Sam. F-4D/E Phantom II, F-5 Tiger, hingga F-14A Tomcat, bahkan masih jadi tulang punggung AU Iran sampai sekarang.

Diluar ketiga jet tadi, sebenarnya ada satu tipe lagi yang saat itu juga jadi incaran, yaitu F-16 Fighting Falcon. Tercatat pada 27 Oktober 1976 Pemerintah Iran pernah bersepakat buat memborong 160 unit F-16 plus opsi tambahan berjumlah 140 buah lagi. Ini artinya bila ditotal AU Iran sama saja bakal mengoperasikan 300 unit F-16 Fighting Falcon!

Pada tahun 1978, sebagian besar komponen dan peralatan perawatan tiba di Iran. Sejumlah personil darat AU Iran sempat pula mendapat pelatihan. Tapi siapa sangka, hanya dalam tempo beberapa bulan ke depan terjadi perubahan politik di Teheran. Situasi yang saat itu berubah 180 derajat, membuat pembelian berkategori "the big-deal' itu gagal total. Padahal secara teknis, Teheran sudah membayar penuh pesanan tadi. Sejumlah ground equipment F-16 yang telah ada lantas berpindah tangan ke Pakistan. Sementara General Dynamics melempar beberapa F-16 pesanan AU Iran yang telah jadi ke AU Israel. Sebagai tambahan, nasib serupa juga menimpa delapan pesawat AWACS. Wahana peringatan dini ini akhirnya dipakai oleh AU Arab Saudi. (*)

Negeri Penyangga

Selain kebutuhan pasokan minyak bumi, AS juga punya alasan lain untuk memperkuat AU Iran. Dalam pandangan strategis semasa perang dingin, disamping Turki, Iran dianggap sebagai wilayah penyangga dari kemungkinan serangan Soviet dan sekutu-sekutunya. Oleh karena itu, pasca PD II AS tanpa ragu- ragu menyuplai sejumlah pesawat tempur. Sebut saja mulai pemburu baling-baling P-47 Thunderbolt, jet intai bertempat duduk ganda RT-33 T-bird, F-84 Thunderjet, serta F-86 Sabre. Dibawah bendera bantuan senjata MAP (Military Assistance Program), semua mesin perang tadi diberikan secara gratis.

Kebagian pasokan pesawat secara cuma-cuma so pasti membuat para pilot militer Iran jadi terbiasa dengan peralatan militer berteknologi tinggi. Tak hanya itu, kedatangan pesawat-pesawat tadi juga memicu AU Iran untuk menciptakan Tim Aerobatik sendiri. Nama yang diusung adalah Golden Crown. Tim ini muncul pada tahun 1955, bersamaan dengan kehadiran jet F-84G Thunderjet. Sayangnya, grup akrobatik udara ini tak bertahan lama. Begitu Syah Iran turun tahta, maka berakhir pula kejayaan nama Golden Crown.(*)

IRIAF Frontline Fighters

Kombinasi Barat-Timur, itulah gambaran kekuatan tempur IRIAF saat ini. Selain jet-jet buatan AS peninggalan jaman Syah, negeri ini juga mengoperasikan Dassault Mirage F1EQ yang didapat dari Irak selama Operasi Enduring Freedom (1991). Jumlahnya diperkirakan mencapai 18 hingga 20 unit, baik itu varian kursi tunggal F1EQ maupun varian kursi ganda F1BQ. Jet lain yang tergolong baru adalah MiG-29A Fulcrum.

Penempur asal Rusia ini dibeli pada tahun 1990. Ada kabar beredar, setahun kemudian IRIAF mendapat tambahan 14 unit MiG-29. Selanjutnya disusul dengan enam pesawat sejenis yang datang dalam kurun waktu 1993-1994. Sayang semua info tadi tak didukung oleh bukti fotografi yang kuat. Tipe penempur terakhir yang juga patut diperhitungkan adalah Chengdu F-7M Airguard. Tercatat IRIAF mulai memakai pesawat asal Cina ini pada tahun 1987. Berikut perkiraan komposisi jet-jet tempur garis depan IRIAF saat ini.

Tipe Pembuat Jumlah
F-14A Tomcat AS 60
F-4D/E Phantom II AS 18/46
Northrop F-5A/B/E/F AS 10/25/57/18
F-7M Airguard Cina 30
MiG-29A/UB Fulcrum Rusia 35/6
Mirage F-1EQ/BQ Perancis 18-20
Shenyang J-6 Cina 12
Su-24MK Fencer-D Rusia 30
Su-25K/UBK/T Rusia 13


Inside The Persian Cat

Setelah membandingkan kemampuannya dengan McDonnell Douglas F-15A Eagle, Iran akhirnya memilih untuk memborong Grumman F-14A Tomcat sebagai penempur utamanya. Dibawah bendera proyek Persian King, pemimpin Iran kala itu, Syah Mohammad Reza Pahlevi II memutuskan untuk memborong 30 unit F-14A-GR plus 424 unit rudal AIM-54A Phoenix. Batch pertama senilai 300 juta dolar ini disetujui pada 7 Januari 1974.

Hanya dalam tenggang waktu beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Juni kembali IIAF (sebutan AU Iran sebelum revolusi) membeli 50 unit jet sejenis serta tambahan 290 buah Phoenix. Total jenderal dana yang mesti dikucurkan Teheran mencapai dua miliar dolar. Asal tahu saja, sepanjang sejarah AS, ini merupakan pembelian terbesar untuk satu jenis perangkat militer oleh negara asing. Pada tahun 1976 muncul berita, Iran kembali bakal memembeli tambahan 70 unit Tomcat. Rencana ini pupus lantaran Shah keburu terjungkal dari kekuasaannya.

Lepas dari lika-liku pembelian, secara garis besar kemampuan Tomcat pesanan Iran setara dengan milik AL AS. Mulai dari sumber tenaga turbofan Pratt&Whitney TF-30, perangkat pengidentifikasi kawan-lawan (IFF), radar AWG-9, hingga perangkat antiacak elektronik (electronic counter-measure), semua sesuai standar AL AS. Khusus untuk perangkat IFF tipe APX-81-M1E yang saat itu tergolong barang rahasia, AS sengaja mengubah kinerjanya supaya hanya bisa mendeteksi jet-jet buatan Blok Timur saja.

Bergeser ke perbedaan, untuk yang satu ini terbilang minim. Urusan kamuflase jelas sudah pasti beda. F-14 pesanan Iran mengadopsi kelir loreng ala padang pasir. Selanjutnya untuk perangkat pengisian bahan bakar di udara tak dilengkapi dengan tutup pelindung. Terakhir, semua armada Tomcat Iran tak punya sistem bantu pendaratan AN/ARA-62 yang notabene hanya diperlukan bagi pesawat yang kerap beroperasi dari dek kapal induk. (*)

Read More..
 
Copyright 2011 @ Bacaan Menarik!
Design by Wordpress Manual | Bloggerized by Free Blogger Template and Blog Teacher | Powered by Blogger