Senin, 08 Agustus 2011

Dilema Muslim Norwegia

Headline

bacaan-menarik.blogspot.com**Insiden penembakan dan bom mengguncang Norwegia pada 22 Juli lalu. Muslim dan imigran Islam Norwegia merasa berduka, namun sekaligus lega.

Ketika Norwegia menghadapi pembantaian terburuknya pada sejarah modern, seorang pria berambut pirang di kerumunan massa yang berduka, tiba-tiba meminta imigran kelahiran Irak, Iman Al Kofi, untuk memeluknya.

Saat itu, Kofi sedang menanti seorang kawannya yang dirawat di rumah sakit karena tiga luka tembakan. Ia baru saja diberitahu bahwa kawannya, yang juga dari Irak, tewas terbunuh akibat tindakan teroris ekstremis ultra-kanan, Anders Behring Breivik.

Kofi dan imigran muslim lainnya sadar, mereka pasti akan diperlakukan amat berbeda jika saja si teroris itu seorang Muslim. “Mereka akan menyalahkan seluruh imigan dan membenci kami,” ujar pemuda berusia 19 tahun itu.

Muslim Norwegia mengaku ikut merasakan sakit hati, akibat tindakan Breivik. Ridak berbeda dengan umat Kristen lainnya. Masyarakat dari berbagai latar belakang berbeda pun sepakat untuk mengutuk aksi Breivik.

Namun, tak bisa disangkal, jika mereka lega pelakunya bukan dari kalangan Muslim. Sadar bahwa gelombang anti-imigran dan sentimen anti-Muslim di Eropa meningkat, mereka tak butuh seorang Muslim utuk jadi pembunuh gila.

“Kami sempat berpikir, Alhamdulillah, pelakunya bukan Muslim,” ujar imigran Muslim asal Aljazair, Mahmoud Tariq. Saat kejadian, ia berada di sebuah masjid di Oslo, yang jendelanya pecah karena bom di tengah kota, menewaskan 8 orang.

Bom meledak beberapa jam, sebelum Breivik menembaki ratusan pemuda yang sedang mengikuti perkemahan musim panas, yang digelar Partai Buruh yang berkuasa. Sebanyak 69 orang tewas dalam penembakan itu.

Seorang imam yang telah lama tinggal di Norwegia, Naheeb Ur Rehman Naz berharap, insiden ini mengubah Norwegia ke arah yang positif. Semua orang akhirnya bersatu, tak pandang bulu. “Semuanya terpengaruh dan terluka,” katanya.

Itikad baik juga ditunjukkan pemerintah Norwegia untuk penduduk Muslimnya. Menteri Luar Negeri Jonas Gahr Store menghadiri seremonial di masjid untuk para korban Breivik.

Meski begitu, warga masih khawatir dengan dampak ke depannya atas tindakan Breivik. Hal ini dikatakan Zohra Abdullah (28), yang khawatir kekerasan ekstremis penyebab ia kabur dari Afghanistan, mengikutinya ke Norwegia.

“Saya ikut lega (Breivik) bukan Muslim. Tapi pada saat bersamaan, ia punya pesan yang menentang Muslim. Ini tak baik,” katanya.

Dalam manifesto sepanjang 1.500 halaman, Breivik menyampaikan pemikirannya yang mendalam mengenai Muslim dan Marxisme yang ditudingnya sebagai penyebab Eropa menjadi multikultur

Pemuda berusia 32 tahun itu kemudian merasa, apa yang dikatakannya sebagai ‘Islamisasi Eropa’ tak bisa dihentikan secara damai. Saat itulah ia mulai merencanakan aksinya, ditujukan untuk pribumi Eropa yang ia anggap pengkhianat karena membiarkan terjadinya multikultur.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2011 @ Bacaan Menarik!
Design by Wordpress Manual | Bloggerized by Free Blogger Template and Blog Teacher | Powered by Blogger